Nggerenengi, ngupat-muji, ngerumpi, menggosip,
membicarakan keburukan orang lain tidak di depannya, saya kira adalah kata
atau frasa yang bersinonim. Dalam Tesaurus Bahasa Indonesia karya Eko
Endarmoko, kata gosip bersinonim dengan angin lalu, cerita burung, desas-desus,
gunjingan, isu, kabar angin, kabar burung, rumor, dan
sebagainya.
Seiring perkembangan teknologi informasi, masalah
gosip ini semakin merebak. Sedikit saja desas-desus miring tentang seseorang,
bisa langsung menyebar, menggelundung, dan berubah wujud sesuai kualitas diri
penerima dan penyampai pesannya. Maka, wajar jika beberapa waktu yang lalu
Menkominfo Tifatul Sembiring mengatakan bahwa para wartawan mencari makan dari
memelintir berita.
Pada kehidupan sehari-hari, masalah gosip tetap
berada pada ranah terlarang. Saat mendapati kesalahan anak, kita tidak boleh
menggunjingkannya di depan anak-anak lain. Hal ini, sedikit banyak akan
menimbulkan kesan negatif anak-anak terhadap sosok yang digunjingkan. Dalam
kehidupan bertetangga, kita pun tidak boleh sembarangan menggunjingkan tingkah
tetangga kita kepada tetangga lain, apalagi jika kita tidak tahu apa yang
sesungguhnya terjadi.
Aktivitas menggunjing, dekat dengan fitnah, dekat
pula dengan adu domba. Menggunjing akan menjadi fitnah jika ternyata yang
digunjingkan tidak seperti yang digunjingkan. Pada beberapa kasus, gunjingan ini
tidak hanya menjadi fitnah, penggunjing bisa saja berubah statusnya menjadi
pengadu domba. Coba bayangkan jika materi gunjingan tersebut dianggap sebagai
kebenaran mutlak oleh pihak tertentu dan itu tidak dapat diterima oleh sosok
yang digunjingkan.
Ketika kita menjadi pemimpin, sepantasnya
kita semakin hati-hati dari aktivitas pergunjingan, apalagi jika berita yang
disampaikannya itu belum diklarifikasi kebenarannya. Pernyataan, gunjingan, desas-desus, yang disampaikan oleh seorang pemimpin lebih tinggi nilai kebenarannya dibandingkan nilai kebenaran ucapan karyawan lain. Oleh karena itu, saat mendapati ada karyawan yang melakukan pelanggaran, berbuat yang aneh-aneh, melakukan tindakan yang tak wajar, sudah sepantasinya karyawan tersebut dipanggil dan diajak berkomunikasi secara personal. Jangan sampai terbalik, pemimpin langsung melontarkan kepada rekan yang bersangkutan tentang kecurigaannya sebelum si tertuduh dimintai klarifikasi. Ini sangat berbahaya.
Saya sering menyaksikan seorang pemimpin yang mengobral kesalahan bawahannya di depan karyawan lain sebelum kebenaran atas kesalahan tersebut diklarifikasikan kepada yang bersangkutan. Seorang pemimpin sudah seharusnya berkewajiban menjaga suasana kondusif untuk kepentingan pekerjaan. Jika seorang pemimpin suka menghembuskan desas-desus, gunjingan, penghakiman sepihak, dapat dipastikan suasana kerja akan langsung menjadi tidak kondusif. Seorang pemimpin memiliki peran sentral, dampak atas tutur katanya tidak hanya pada hubungannya dengan bawahan, melainkan juga bisa menyebabkan ketidakharmonisan atara karyawan yang satu dengan karyawan lain, antara guru yang satu dengan guru lain.
Seorang pemimpin harus bijak menyikapi kesalahan bawahannya. Misalnya, sebagai kepala alangkah baiknya, saat menyaksikan ada guru yang kerap terlambat, memanggil guru yang bersangkutan. Setelah dipanggil, diajak berkomunikasi, Ada apa kok sering terlambat? Ada masalah apa? Bisa berangkat lebih pagi atau tidak? Banyak cara cantik untuk menyelesaikan masalah, bukan dengan mengumbarnya di depan publik tanpa kehadiran yang bersangkutan.
|