Teguran yang Tidak Mendidik - 27 February 2010 - Kolom - .: BAHASA SISWA :.
DEPAN | SUREL | MASUK | DAFTAR | RSS Monday, 21-05-12, 4:44 AM

mari belajar

bahasa & sastra





  • Depan
  • Daftar Isi
  • Berita Redaksi
  • Kolom Bahasa
  • Kolom Sastra
  • Cerpen
  • Puisi
  • Resensi Buku
  • PTK
  • Unduh
  • >>Self Publishing
  • >>Pendidikan
  • >>Glosarium Daring
  • >>KBBI Daring
  • Kontak Redaksi
  • Forum Diskusi
  • Foto-foto
  • Surel
  • Buku Tamu
  • Kirim Tulisan


    Total online: 1
    Guests: 1
    Users: 0

  • Kolom

    Main » 2010 » February » 27 » Teguran yang Tidak Mendidik
    1:05 PM
    Teguran yang Tidak Mendidik
    Nggerenengi, ngupat-muji, ngerumpi, menggosip, membicarakan keburukan orang lain tidak di depannya, saya kira adalah kata atau frasa yang bersinonim. Dalam Tesaurus Bahasa Indonesia karya Eko Endarmoko, kata gosip bersinonim dengan angin lalu, cerita burung, desas-desus, gunjingan, isu, kabar angin, kabar burung, rumor, dan sebagainya.
     
    Seiring perkembangan teknologi informasi, masalah gosip ini semakin merebak. Sedikit saja desas-desus miring tentang seseorang, bisa langsung menyebar, menggelundung, dan berubah wujud sesuai kualitas diri penerima dan penyampai pesannya. Maka, wajar jika beberapa waktu yang lalu Menkominfo Tifatul Sembiring mengatakan bahwa para wartawan mencari makan dari memelintir berita.
     
    Pada kehidupan sehari-hari, masalah gosip tetap berada pada ranah terlarang. Saat mendapati kesalahan anak, kita tidak boleh menggunjingkannya di depan anak-anak lain. Hal ini, sedikit banyak akan menimbulkan kesan negatif anak-anak terhadap sosok yang digunjingkan. Dalam kehidupan bertetangga, kita pun tidak boleh sembarangan menggunjingkan tingkah tetangga kita kepada tetangga lain, apalagi jika kita tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi.
     
    Aktivitas menggunjing, dekat dengan fitnah, dekat pula dengan adu domba. Menggunjing akan menjadi fitnah jika ternyata yang digunjingkan tidak seperti yang digunjingkan. Pada beberapa kasus, gunjingan ini tidak hanya menjadi fitnah, penggunjing bisa saja berubah statusnya menjadi pengadu domba. Coba bayangkan jika materi gunjingan tersebut dianggap sebagai kebenaran mutlak oleh pihak tertentu dan itu tidak dapat diterima oleh sosok yang digunjingkan.
     
    Ketika kita menjadi pemimpin, sepantasnya kita semakin hati-hati dari aktivitas pergunjingan, apalagi jika berita yang disampaikannya itu belum diklarifikasi kebenarannya. Pernyataan, gunjingan, desas-desus, yang disampaikan oleh seorang pemimpin lebih tinggi nilai kebenarannya dibandingkan nilai kebenaran ucapan karyawan lain. Oleh karena itu, saat mendapati ada karyawan yang melakukan pelanggaran, berbuat yang aneh-aneh, melakukan tindakan yang tak wajar, sudah sepantasinya karyawan tersebut dipanggil dan diajak berkomunikasi secara personal. Jangan sampai terbalik, pemimpin langsung melontarkan kepada rekan yang bersangkutan tentang kecurigaannya sebelum si tertuduh dimintai klarifikasi. Ini sangat berbahaya.

    Saya sering menyaksikan seorang pemimpin yang mengobral kesalahan bawahannya di depan karyawan lain sebelum kebenaran atas kesalahan tersebut diklarifikasikan kepada yang bersangkutan. Seorang pemimpin sudah seharusnya berkewajiban menjaga suasana kondusif untuk kepentingan pekerjaan. Jika seorang pemimpin suka menghembuskan desas-desus, gunjingan, penghakiman sepihak, dapat dipastikan suasana kerja akan langsung menjadi tidak kondusif. Seorang pemimpin memiliki peran sentral, dampak atas tutur katanya tidak hanya pada hubungannya dengan bawahan, melainkan juga bisa menyebabkan ketidakharmonisan atara karyawan yang satu dengan karyawan lain, antara guru yang satu dengan guru lain.

    Seorang pemimpin harus bijak menyikapi kesalahan bawahannya. Misalnya, sebagai kepala alangkah baiknya
    , saat menyaksikan ada guru yang kerap terlambat, memanggil guru yang bersangkutan. Setelah dipanggil, diajak berkomunikasi, Ada apa kok sering terlambat? Ada masalah apa? Bisa berangkat lebih pagi atau tidak? Banyak cara cantik untuk menyelesaikan masalah, bukan dengan mengumbarnya di depan publik tanpa kehadiran yang bersangkutan.
    Category: Kolom Aneka | Views: 451 | Added by: sabjan | Tags: catatan harian guru, bahasa siswa, 2010, sabjan badio | Rating: 5.0/10

    Total comments: 1
    0  
    1 seto   (27-02-10 9:36 PM)
    mungkin yg menegur sedang pamer kekuasaan.

    Name *:
    Email:
    Code *:

    Create a website for free
    Berlangganan Bahasa Siswa? Masukkan E-Mail Anda!
    © 2009-2012 by Bahasa Siswa, Media Aksara, & a.b.a.s.r.i.n